Coretan Cherri
Ada alasan kenapa saya menyebut salah satu teman terbaik saya ini seperti mantan ibu negara Philipina, itu karena kegemaran dia mengumpulkan sepatu. Sudah hampir menjadi suatu kewajiban apabila kami sedang jalan di pusat perbelanjaan akan menghampiri gerai sepatu. Dan saking seringnya dia membeli sepatu, pernah satu ketika dia membeli sepatu yang sama persis dengan sepatu yang sudah dia punya.
Saya mengenal dia sekitar 13 tahun yang lalu (lama amat yak), ketika kami berdua duduk di bangku sekolah menengah atas. Kebetulan mulai dari tahun pertama sampai tahun terakhir kami selalu berada di kelas yang sama. Namun kedekatan kami justru bukan ketika berada di sekolah yang sama tersebut, melainkan beberapa tahun setelah kami lulus.
Kedekatan kami bahkan sudah seperti saudara, kami berdua tahu hampir semua tentang diri masing-masing, mulai dari masalah pekerjaan sampai masalah pribadi dan keluarga. Walaupun kami tidak setiap hari bertemu tapi komunikasi lantjar djaya. Kita sebut saja namanya They.
They ini typical perempuan pekerja keras, mandiri dan tegas. Dari penampilannya sih udah keliatan banget kalau dia tegas, secara mukenye ntu kalau untuk yang baru kenal bakalan mikir dua kali buat nyolek. Bukannya dia galak, tetapi memang udah casing bawaan dari orok seperti itu. Kalau sudah mengenal dia baru akan tahu kalau dia pribadi yang menyenangkan. Tapi kalau dia lagi dapet masa “cuti”nya jangan macam-macam deh, bukan cuma senggol bacok istilahnya tapi colek mutilasi (lebay dikit yak :D).
Karena dia termasuk typical pekerja keras menyebabkan dia memiliki karakter yang juga akan selalu berusaha mengejar cita-cita dia, dia tahu apa yang dia mau. Dan karena kemandiriannya itu juga menyebabkan dia menjadi sedikit keras kepala ketika menghadapi suatu masalah. Karena dia merasa tahu apa yang dia lakukan, sehingga terkadang tidak mendengarkan omongan orang sekitarnya.
Dan kemandiriannya ini juga menyebabkan dia agak sedikit kurang berdamai dengan urusan percintaan, banyak cowok yang naksir dia mikir dua kali ketika melihat dia yang mandiri dan tegas. Bukan salah dia juga sih, cuma kandidat-kandidatnya aja yang padacementidak berani membuktikan kalau salah satu dari mereka memang layak untuk mendampingi si They. Tenang aja cong, akan ada waktunya seseorang yang memang benar-benar layak buat lo akan datang dan melamar lo, tapi bukan si Ksatria Bajaj Silver yak :D *pissssss…
They juga bisa dibilang salah satu penganut “Work Hard Play Hard”, dia tahu benar bagaimana caranya menikmati hasil kerja kerasnya. Selain sepatu-sepatu itu dia juga senang travelling. Dia itu tukang jalan dan gak ada takutnya, kemane aja selama masih bisa cuti dia jabanin. Tapi belakangan mulai berkurang frekuensinya, mungkin karena udah sadar umur dan diminta nikah melulu kali yak? *piss lagi ah*…
But anyway, udah banyak hal saya lalui bersama dia. Gak cuma ngakak bareng tapi juga juga nangis bersama. Satu lagi kebiasaanya dia yang nyebelin, dia itu Miss Dadakan Jaya. Kalau ngajakin ketemuan selalu mendadak danin last minute. Tapi disitu sih serunya, karena kalau direncanakan jauh-jauh hari justru seringnya malah gagal.
Saya merasa beruntung memiliki teman yang satu ini, kalau bisa minta sih pengennya mau temenan terus sampe tua. Trus mau mohon sama Tuhan, agar They secepatnya ditemukan dengan jodohnya… Amiennn… *Usap telapak tangan ke muka*… :D
Teman saya yang satu ini terbilang unik, kita kenal di sebuah situs jejaring sosial nyaris setahun lalu namun sampai saat ini kami belum pernah bertemu muka. Anehnya karena walaupun belum tahu wujud asli masing-masing namun kami merasa seperti sudah berteman lama, saya bisa dengan nyamannya bercerita banyak hal mulai dari politik, ekonomi dan keamanan (itu hanya rekaan biar terkesan pintar). Capricorn satu ini biasa dipanggil Ichan, tukang potret keliling yang pekerjaannya mengambil gambar binatang mulai dari atas gunung sampe dalam laut.
Buat saya suatu keberuntungan bisa berteman dengan dia, karena banyak hal yang bisa saya dapatkan dan ketahui dari perpustakaan berjalan yang satu ini. Saya juga iri dengan dia karena dia sudah menjelajah negeri ini, mulai dari ujung barat samapai ujung timur. Dari pulau yang sudah dikenal orang sampai pulau yang mungkin tidak banyak orang yang tahu macam Miangas. Sebagian orang mungkin akan mengatakan kalau He’s a lucky guy, tapi buat saya yang bisa dibilang cukup kenal dia (walaupun belum terlalu banyak) dia memang pantas menikmati apa yang dia raih sekarang mengingat perjuangan dia selama ini.
Berbicara soal pribadi makhluk yang satu ini ada satu kata yang bisa mewakili dia, freak. Ini bukan hanya penilaian saya loh tetapi dia juga mengakui hal ini. Kesan pertama ketika mengenal dia adalah orang ini galak, secara tampilan dia itu sengak ditambah wajahnya yang kalau menurut saya ketika diam biasa saya bilang “muka perang” (maap yak chan). Ditambah sifatnya yang cuek dan straight to the point ketika berbicara atau melakukan sesuatu. Jadi buat yang kupingnya tipis sepertinya akan sulit menerima dia sebagai temannya.
Frontal, mungkin itu kata lainnya yang tepat menggambarkan dirinya. Dia akan dengan cueknya mengatakan sesuatu yang dia rasa tidak sesuai ataupun tidak benar. Dia juga tidak segan menegur orang yang usianya di atas dia ketika menurut dia orang itu bekerja tidak sesuai dengan apa yang dia mau. Akan dengan gampangnya dia menyebut orang itu bodoh kalau perkerjaannya tidak beres.
Tidak jarang pula kami berdebat soal cara memandang hidup, karena melihat satu masalah dari sudut yang berbeda. Dia tuh sering banget meremehkan satu hal, sebagai contoh dia menganggap orang yang mengabdi itu bodoh. Konsep seseorang rela menyerahlan hidupnya untuk melayani orang lain adalah hal yang konyol. Padahal tanpa dia sadari gak mungkin dia bisa menjadi majikan kalau tidak ada orang yang mau bekerja melayani dia. Hidup gak hanya satu sisi cuy.
Tuhan memang Maha Adil menciptakan makhluknya. Dibalik sisi freaknya dia, ada satu sisi yang pastinya akan membuat banyak cewek tergila-gila sama dia. Mungkin karena kondisi yang dialaminya dari kecil membuat dia menjadi sosok yang sayang dengan keluarganya, dia bisa menjadi seorang kakak dan sosok ayah yang baik buat adiknya. Mulai kelihatan kan anehnya? Petualang yang juga cinta keluarga, si “muka perang” yang disaat bersamaan juga mampu menjadi sosok kakak dan ayah.
Kalau saya sudah mengobrol dengan dia banyak hal yang kami bicarakan mulai dari hal sepele macam gosipin gebetan sampai bicara soal blue economy (buat yang belum tahu coba tany ambah gugel). Dulu ketika awal-awal kita kenal, saya menilai dia orangnya sedikit pendiam. Tapi ternyata dia itu sama bawelnya, apalagi kalau sudah membicarakan soal sejarah maupun lingkungan hidup. Mario Teguh aja mah putus antusiasnya ketika berbicara, kalau dibandingkan dia saat sedang membahas soal Candi Borobudur maupun Gunung Toba.
Dan sekarang terpikir satu hal gila, berharap suatu hari nanti saya bisa travelling (bekpeker) bareng sama dia. Tetapi apa iya bisa? Kapanan dia sibuk bangat, ketemu aja susahnya minta ampun. Secara dia kerjaannya bukan hanya motoin binatang, tetapi kadang juga nerima panggilan buat moto orang hajatan baik itu kawinan maupun sunatan… Cuy, konsisten sama MUKA PERANG lo ya…
Kenapa bocah gemblung satu ini dipanggil Jawir? Kayaknya pertanyaan yang tidak usah saya jawab, karena semua orang pasti sudah tahu jawabannya, yup karena dia pemuda keturunan Pekalongan. Jadi, kita sebut saja dia Jawir (kok terdengar seperti menyebut korban pemerkosaan di koran kriminal itu ya???), seorang marketing retail yang kerjaanya berkeliling Indonesia menawarkan dirinya (maaf) menawarkan produk tempat dimana dia bekerja. Namun dia lebih senang disebut sebagai tukang ojek, karena pekerjaanya menuntut dia berkeliling menggunakan motor kesayangannya.
Kenal makhluk satu ini di sebuah situs jejaring sosial, kalau lihat kicauannya sih dia terkesancool(kalau boleh mengutip kata-kata anak sekarang). Tapi setelah kenal dia secara personal beuh, kagak ada kalem-kalemnya. Selalu cengengesan dan agak lama ketika harus memahami suatu hal yang sedang dibicarakan (gak lemot sih tapi…). Tapi 1 hal yang saya senang dari dia adalah, he always smiling whatever happen.
Jujur saya salut dengan dia, staminanya itu loh bener-bener ngalahin tukang ojek beneran. Coba aja bayangin, after office kita lagi ngopi-ngopi ganteng di daerah Jakarta Pusat, setelah itu dia lanjut nonton midnight di daerah Selatan, kemudian nganterin temannya ke daerah Jakarta Utara dan besoknya harus kerja di bilangan Jakarta Barat. Ketika dia cerita itu cuma satu komen saya… GILA!!!
Dan ketika saya tanyakan kepada dia apakah tidak merasa lelahm jawaban dia adalah “Cherri, rasa lelah itu berasal dari pikiran. Kalau pikiran kita happy dengan sendirinya rasa capek akan hilang”. Iye die bisa emang gak pernah merasa capek, cuma tetiba denger kabar sudah terbaring lemah di sebuah Rumah Sakit.
Satu lagi yang kita suka dari dia adalah dia rela-rela aja gitu dijadiin bahan bullying, gak seharusnya sih kita begitu ke dia tapi ya gimana orang dianya juga rela-rela aja *nyengir monyet*. Dan satu hal yang saya harus belajar dari dia adalah bagaimana bisa melihat dan menjalani hidup dengan sederhana. Gak bikin hidup yang udah ribet jadi tambah ribet.
Cuma satu yang kurang, seseorang yang bisa menemani dia. Bukannya dia tidak berusaha, sudah lebih dari cukup petualangan dia mencari seseorang, tetapi entah karena memang belum waktunya atau dia belum siap terikat yang membuat petualangannya belum berakhir. Terus mencari seseorang yang bisa mengusir rasa sepi dan membawa kebahagiaan buat dia hahahhahaha… (Abis ini pasti dikeplak sama Jawir).
Dan pada akhirnya saya hanya bersyukur mempunyai teman yang seunik dia, nyaris aneh sih tapi ya udahlah ya. Oiya satu lagi, dia itu orangnya keras kepala (saya biasa menyebutnya tambeng) kalau diingatkan sesuatu sering tidak didengar. Menurut dia selama gak merugikan orang lain kenapa harus mundur… Kalau sudah begitu kita hanya bisa bilang… SETERAH LO DEH WIR….
Pagi ini saya terbangun tepat ketika adzan subuh berkumandang, setelah istirahat cukup semalam lumayan membuat badan ini pulih kembali untuk menghadapi hari yang sepertinya akan sama melelahkannya seperti kemarin. Oiya, pagi ini salah satu teman ada yang berulang tahun, ucapan dan doa sudah dikirimkan kepadanya dan semoga dia selalu dalam lindungan Tuhan.
Seperti biasa aktifitas bangun pagi dimulai dengan melongok si buah hitam, ternyata ada beberapa pesan masuk yang belum terbaca. Lumayan memompa semangat di pagi hari, ada juga pesan yang membuat saya tersenyum.
Tapi satu ide terlintas di kepala, ingin menulis cerita soal teman-teman dekat di sekeliling saya. Ooops, sudah siang ternyata, time to rock the day. Waktunya kerja…. Biar gak dibilang magabut…
Dilanjut nanti ya sambungan ceritanya… Have a great day people.
Akhirnya hari ini selesai juga, dan ketika saya sedang menulis ini posisi saya masih berada di kantor. Baru selesai mengerjakan semua tugas yang harus diselesaikan hari ini, lelah teramat sangat…
Semua terasa lebih berat karena dimulai dengan pagi yang menyebalkan, semua karena kebodohan saya juga karena lupa mengisi bensin motor malam sebelumnya yang artinya pagi ini harus mengantri panjang di SPBU dekat rumah. Dan itu sama artinya jadwal berangkat menjadi lebih siang daripada biasanya, yang artinya juga harus siap menghadapi kemacetan yang panjang menuju tempat kerja.
Dan benar saja semua itu terbukti karena waktu tempuh menjadi lebih panjang 1 jam dari biasanya, ditambah cuaca panas dan berdebu lengkap sudah. Tapi jangan kecewa itu belum seberapa, seperti kurang lengkap lelucon untuk hari ini hape yang menjadi teman setia saya selama ini ngambek. Sering mati karena batrenya bermasalah, seperti tidak tahu kondisi tuannya saja yang sedang paceklik.
Sampai kantor setumpuk pekerjaan sudah menantim tetapi untunglah teman kantor teramat sangat membantu menjaga kestabilan emosi saya hari ini. Ya hari berjalan tidak seburuk yang saya perkirakan di pagi hari. Ternyata Tuhan masih berbaik hati pada hambanya yang satu ini.
Dan disinilah saya, masih duduk termangu di depan komputer kerja. Sedikit menenangkan hati dan pikiran sebelum beranjak pulang menuju rumah untuk beristirahat (bahasanya kenapa lebay gini ya?). Dan tetiba galau pun datang, ada yang mengganggu pikiran.
Dia lagi apa ya? Seharian gak ada kabarnya? Sudah terbiasa sih tidak mendapat kabar dari dia, jangankan sehari berhari-hari tidak mendapatkan sapaan pun sudah menjadi hal yang lumrah. Buat saya mengetahui dia masih beredar di grup bbm ataupun masih terlihat di lini masa saya hari ini sudah cukup untuk memastikan kalau dia baik-baik saja. Ya walupun sebenarnya berharap bisa mendengar suara dia setelah hari yang melelahkan ini…
Time to go, badan sudah mulai memohon untuk mendapatkan haknya beristirahat. See you tomorrow, miss you honey… :)
Aku tahu aku sudah tidak pantas meminta apapun Tuhan, karena sudah banyak nikmat yang tidak aku syukuri. Aku tahu aku tidak seharusnya lagi berharap Tuhan, karena aku sudah terlalu serakah dengan berarap banyak sekali keinginan. Tapi kalau mimpi boleh kan Tuhan? Hanya sekedar angan kok, tanpa ekspektasi apa-apa.
Karena hanya di dalam mimpi aku bisa merasakan pelukan itu, pelukan yang bisa membuatku merasa tenang. Pelukan yang bisa membuatku merasa aman dan tidak takut akan apapun. Pelukan yang memberikan kehangatan meskipun di tengah malam yang dingin. Pelukan yang membuatku merasa berarti sebagai seseorang apapun kondisiku.
Hanya di alam mimpi aku bisa merasakan pelukan itu, yang di alam nyata aku sendiri bahkan lupa seperti apa rasanya. Karena di alam nyata aku tidak ingat kapan pelukan itu terakhir kali hadir di perjalanan hidupku, dan sepertinya aku tidak akan bisa merasakan itu sampai nanti saatnya tiba kami bertemu lagi. Saat dimana semua orang akan dikumpulkan kembali di suatu tempat.
Ayah, saat ini aku hanya bisa merasakan pelukmu di mimpiku. Tapi nanti ketika saat itu datang, aku akan membayar semuanya dengan memelukmu erat apapun yang terjadi. Love you with all my heart, miss you so much DAD.
Selepas pertemuan itu kami sering bertemu dan berkomunikasi, tentu saja berhubungan dengan persiapan pernikahan Putri. Tidak jarang pula aku menguhubungi dia dengan alasan project itu, walau sebenarnya aku hanya ingin mendengar suaranya. Aku merasa kami semakin dekat, dan aku pun mulai bisa mengenal pribadi Bayu. Sampai hari itu pun tiba, hari pernikahan Putri, satu hari yang sebenarnya aku tidak menginginkannya. Karena itu artinya akhir dari masa-masa kebersamaanku dengan Bayu.
Hari itu Bayu terlihat sangat gagah, mengenakan beskap berwarna hitam yang pas menempel di tubuhnya. Betul-betul sosok yang menarik perhatian banyak orang, dari kejauhan aku dapat melihat beberapa wanita cantik terlihat mengarahkan perhatiannya pada Bayu. Bahkan beberapa mulai berusaha mendekati dia, sedangkan aku hanya bisa memandanginya dari jauh.
Tapi aku tidak mau menyerah begitu saja, sebisa mungkin aku berusaha untuk mengobrol bersamanya memanfaatkan kebersamaan yang tersisa. Karena setelah pernikahan itu aku hanya akan bisa mengaguminya dari jauh, dengan sedikit kemungkinan untuk bisa bertemu dengannya lagi.
Hari itupun berlalu dan sekarang aku kembali dalam rutinitas hidup, berkutat dengan angka dan laporan yang menumpuk di meja kerjaku. Namun entah mengapa bayangan Bayu selalu saja mengganggu konsentrasiku. Sekuat aku menepis bayangan itu, sekuat itu pula bayangan itu mengganggu konsentrasi kerjaku.
Kangen? Tapi, kenapa aku harus kangen terhadap dia? Perasaan apa ini? Apakah aku…?
Ketika dihati terlintas namanya
Berjuta kenangan terbayang di mata
Menyeri kalbu menyentak jiwa
Wahai kau sang pujaan hati
Yang telah lama jauh pergi
Sering hadir mengisi mimpi
Entah mengapa hati terpaku
Tidak mampu pergi berlalu
Membawa rasa sendu nan pilu
Tuhan, kalau boleh aku meminta
Ijinkan aku bertemu dengannya
Bukan untuk menyambung asa
Hanya melepas rindu dahaga
Siang itu… 19 Januari 2010 akan selalu kuingat, saat dimana aku bertemu dengan Dia. Ya Dia, sang malaikat yang dikirim Tuhan untukku. Di sebuah kafe yang kebetulan milikku, aku menemani seorang sahabatku untuk menemui salah satu kliennya. Tania adalah seorang Wedding Organizer dan dia memintaku untuk membantunya menangani kliennya yang satu ini. Pertemuan kali ini adalah pertemuan ketiga kalinya dengan Putri sang klien yang merupakan calon mempelai wanita.
Tidak seperti biasnya, Putri tidak ditemani oleh calon suaminya tetapi ditemani oleh seseorang. Seseorang yang bukan hanya dari penampilan fisiknya menarik, tetapi ada hal lain yang membuatku merasakan ketertarikan yang sangat kuat pada dirinya. Entah apakah ini yang disebut “Love at the first sight”, tapi memang aku sudah jatuh hati padanya sejak pertama aku melihat dia.
“Hai Put, apa kabar?” sapaku pada Putri sambil menyalaminya. “Kabar baik, maaf ya kalau kami agak telat… Oiya kenalkan ini Bayu, adikku yang baru saja kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan sekolahnya. Dan dia yang selanjutnya akan menjadi asistenku dalam menyiapkan pernikahan ini”. Yang disebutkan namanya hanya tersenyum ketika dikenalkan oleh Putri, senyum itulah yang membuat hatiku berdetak kencang. Ditambah sorot matanya yang terasa teduh membuatku luluh. Mungkin seperti inilah sosok malaikat yang selama ini sering disebut-sebut orang. Pertemuan hari itu berjalan lancar, 3 jam kami diskusi membahas semua keinginan Putri mengenai detail pernikahannya.
Selepas mereka pergi aku pun mencoba membahas hasil diskusi tadi dengan Tania. “Helloooo, lo denger kan apa yang gw omongin tadi???” tanya Tania sambil menjentikkan jarinya di depan mukaku. “Sorry Tan, kenapa?” jawabku setengah terkejut. “Lo kenapa sih darling? Dari tadi gue perhatiin senyum-senyum sendiri… “. “Ohh, gpp kok Tan. Emang gak boleh gue senyum?”. “Ya gpp sih, cuma sedikit aneh aja… “. “Gue tuh senyum karena projek kali ini lancar Tania cantik…” elakku sambil mencubit pipi Tania. Andai kau tahu Tan alasan sebenarnya kenapa aku begitu, itu semua karena Bayu.
